Kutahu diri ini bukanlah apa-apa untukmu. Tidak untuk kaukenal, tidak pantas untuk kauberi senyuman bahagia. Mata indahmu bagai berlian yang bahkan jika dilihat dengan cara terjungkal balik pun akan tetap menawan. Bahumu sejajar, aku ingin bersandar di sana, walaupun kini sudah tak bisa lagi. Sudah terlambat...
Kamis, 31 Maret 2016
Salam Terakhir
Kamis, 17 Maret 2016
[CERPEN] Remind Me
Kami berpandangan dalam beberapa detik.
Kemudian ia memutuskan kontak mata di antara kami, dan masuk ke dalam rumahnya.
Rumah Arin masih sama. Halaman depan yang penuh dengan berbagai macam jenis
bunga, hanya saja dindingnya sudah berubah warna menjadi cat biru muda.
Aku bernafas berat, dan melanjutkan
perjalanan menuju rumahku yang jaraknya tak jauh lagi. Arin tumbuh dengan
sangat baik setelah sepuluh tahun kami terakhir bertemu. Rambut hitam mulusnya
tergerai dan wajahnya terlihat bersinar tanpa ada kotoran apapun, semacam
jerawat. Dan dia tak mengenalku, terlihat dari ekspresi tak acuhnya selepas
melihatku beberapa menit yang lalu. Aku benci ini! Sungguh. Aku benci ketika
aku mengenal seseorang, tetapi orang itu tidak mengenalku setelah beberapa lama
tak bertemu. Termasuk dalam kasus Arin, teman semasa kecilku.
Aku merasa jengkel, merasa tak
dipedulikan.
Sabtu, 16 Januari 2016
[CERPEN] Telinga Gajah yang Merindu
1.
“Hati-hati
ya kalau bicara tentang kakak. Kalau bisa jangan di sekitar kakak. Karena kakak
tahu.”
Aku
masih mengingat jelas kalimat yang terbebas dari bibirnya, Igo, senior satu
tingkat di atasku. Itu adalah kalimat terakhir yang kudengar setelah pertemuan
kami dua minggu lalu. Setelah itu, kami tak pernah saling berhadapan muka lagi,
terlebih karena kesibukan dan luasnya area sekolah membuat Dewi Fortuna jarang mempertemukan kami
berdua.
Walaupun
begitu, hatiku tak pernah tidur. Masih ada sesuatu yang terbangun di dalam
dadaku ini. Ia terbangun karena Igo. Entah sejak kapan, aku tak tahu. Seperti
kutu di kepala, ia kuketahui setelah kutu itu membesar dan membuat kepalaku tak
nyaman. Aku pun tak nyaman dengan perasaan yang membuat resah ini.
Selasa, 22 Desember 2015
#ARKI2015: Malam Terakhir (Day 3)
Lanjut di hari ketiga..
Di
hari ketiga ini dimulai dengan sarapan jam setengah enam. Pagi banget, ya?
Iya.. Karena hari ini peserta ARKI 2015 bakal ke Kemdikbud. Memangnya ke
Kemdikbud naik apa? Naik Bajaj. Satu Bajaj 10 orang. Kami naik bis
dong.. Nah, setelah itu sampe deh di gedungnya.
Mungkin, hari ini
menjadi hari yang mendebarkan bagi sebagian peserta yang berharap dan yakin
dirinya menang. Karena hari ini bakal diumumkan para pemenang dari
masing-masing kategori yang kemarin sudah berlomba. Siapa aja yang menang, ya?
Sebelum pengumuman pemenang dibacakan, tentu dilaksanakan beberapa acara dulu. Ada pembukaan, tarian dari murid SMA, sambutan-sambutan, pembacaan puisi oleh sastrawan, baru deh pengumuman.
Jumat, 18 Desember 2015
#ARKI2015: Senang-Riang Para Peserta (Day 2)
Oke,
lanjut hari kedua..
Di
hari kedua ini keakraban peserta semakin bertambah, nih.. Teman yang dikenal
semakin banyak. Dan perjuangan dari semua peserta sama besarnya. Karena, di
hari kedua ini banyak kegiatan yang sangat menyenangkan.
Pagi itu, kami sarapan
jam 6 pagi dan masuk ke ballroom setelah sarapan. Di ballroom kami melakukan
diskusi panel yang diisi oleh Kak Wahyu Aditya atau @maswaditya yang membahas
mengenai Sila Ke-Enam: Kreatif Sampai Mati. Kak Wahyu Aditya ini mengajarkan
untuk meningkatkan kreativitasan para peserta. Seru banget deh pokoknya.
(dan aku kasih tau, ya.
Semenjak dapat ilmu dari Kak Wahyu aku mulai senang menggambar dan mencoba
untuk menggambar walaupun gambaranku jelek dan buruk banget. Maaf buka aib:D)
Rabu, 16 Desember 2015
#ARKI2015: Cerita Akademia Lampung (Day 1)
Pesimis sudah menjadi kebiasaanku. Tetapi gugup bukan tabiatku. Aku biasa menenangkan diri walaupun di dalam dada sangat bergemuruh waktu akan melihat pengumuman peserta #ARKI2015.
Bagi
yang belum tahu ARKI, ARKI itu adalah singkatan dari Akademi Remaja Kreatif
Indonesia. Yaitu suatu wadah di mana remaja SMP dan SMA dikumpulkan untuk
belajar bersama dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Mereka yang ikut
ARKI adalah remaja berjumlah 100 orang yang tentu sudah diseleksi dari seluruh
provinsi di Indonesia. Jadi ARKI ini ajang nasional.
Selasa, 21 Juli 2015
Putus Nggak Putus
Hola!
Minal aidzin wal
faidzin
Ternyata lama juga
aku nggak mengisi blog ini dengan tulisan yang setidaknya sebuah curhatan tak
berguna. Eh, ternyata begitu saja nggak sempat. Yah, maklum lah.. sehabis
membantu ibu membersihkan tempat tidur. hahaha *ketawa garing*
SO! lebaran ini
aku reuni dengan kawan-kawan SMP. Dan ketemulah aku dengan sebuah kawan yang
mungkin dulunya aku nggak akrab dengan dia. Daripada aku dan dia hanya diisi
oleh keheningan, lebih baik mengobrol. Akhirnya aku bertanya-tanya tentang
kehidupan dia.
Dia itu pacaran
dengan seorang cowok yang berbeda agama. Beda iman. Beda keyakinan. LDR pula.
Tapi aku salut dengan mereka. Mereka menjalani itu dengan baik-baik saja. Tanpa
masalah.
Langganan:
Postingan (Atom)
