Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2018

Joylada: Aplikasi Menghasilkan Uang Untuk Penulis

Hello, Teman-teman. Lama nggak jumpa aku. Aku terlalu malas untuk ngeblog, jadi sesekali saja buka ini  kalau lagi mood.

Di sini aku mau share mengenai sebuah aplikasi untuk para penulis. Yaps, bahasanku memang nggak jauh-jauh dari dunia tulis menulis. Heheh. Dan seperti yang kita tahu, banyak aplikasi yang dibuat khusus untuk para penulis menuliskan karyanya. Entah itu wattpad, Figment, dan lain sebagainya.

Sabtu, 31 Desember 2016

Cara lolos ARKI Bidang Cerpen

Alhamdulillah suatu kebanggaan sekali untukku karena bisa lolos Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2015 dan 2016. Untuk mengikuti lomba yang kini sudah mulai terkenal di kalangan penulis remaja itu nggak mudah, lho. Ada seleksi karya nasional dari seluruh Indonesia dulu, baru kamu bisa mengikuti lomba bergengsi yang dua tahun ini diadakan di Jakarta itu.



Nah, kali ini aku mau bagi-bagi tips bagaimana caraku bisa lolos ARKI tahun kemarin. Walaupun aku nggak menang di kedua tahun itu, setidaknya tips-tips ini bisa sedikit membantu kamu yang mau sekali lolos ARKI. Semoga bermanfaat ya, friends!

1. Pahami Tema
Tema seleksi karya ARKI selalu ditentukan, Friends. Untuk tahun 2015 tema cerpen “Kearifan Lokalku”, sedangkan tahun 2016 “Istimewanya Keluargaku”. Kalian harus benar-benar mengerti maksud dari tema itu.

2. Riset
Setelah kalian paham dengan tema yang ditentukan, untuk kalian yang belum ada ide mau buat apa, segera lakukan riset. Carilah tulisan yang berkaitan dengan tema tersebut. Cari apa pengertian dari kearifan lokal, apa saja kearifan lokal  dari daerah kalian, atau mengenai keluarga yang istimewa itu seperti apa. Riset di google, atau baca-baca buku sampai kalian tahu apa yang mau kalian tulis.

3. Penuhi Kriteria Penilaian Cerpen
Biasanya, kriteria penilaian akan diberi tahu. Nah, kalian harus memenuhi unsur-unsur tersebut.

a)  Terpenuhinya aspek struktur (unsur intrinsik dan ekstrinsik) dan teknik pengisahan.
b)  Kekuatan pengisahan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia yang baik dan benar (diksi, kalimat, gaya bahasa).
c)  Kekuatan menghidupkan cerita.
d)  Isi

Untuk isi paling penting, Friends!
- Cerpen yang kamu tulis harus sesuai dengan tema yang ditentukan. Jadi, pastikan dulu sesuai atau tidak ide yang kamu tulis.

- Makna dan/pesan yang disampaikan juga harus jelas. Jangan buat tulisan yang kosong, Friends! Artinya tidak ada pesan yang kamu tulis untuk pembaca.

- Nilai-nilai kehidupan/budaya yang ditawarkan. Nah! Poin ini yang kadang dilupakan, padahal penting. Kalian perlu menyisipkan nilai-nilai budaya. Misalnya cerpenku yang menyisipkan tentang makanan khas Lampung yaitu seruit atau kain tapis.

4. Buat Cerpen yang Unik.
Tidak ada hal yang baru di dunia ini. Tapi, kamu bisa merangkai sebuah ide cerita yang serupa dengan pembawaan yang berbeda. Buatlah cerpen yang enak untuk dinikmati, juga punya keunikan sehingga karya kamu bisa lolos dalam penyeleksian.

5. Editing
Penuhi persyaratan karya ya, Friends. Diketik sampai berapa halaman, berapa jarak spasinya, dan lain-lain. Jangan mengabaikan ini karena persyaratan ini memudahkan juri untuk membaca karya kamu. Dan yang paling penting adalah EYD! Perhatikan titik, koma, tanda seru. Semakin rapi, tulisanmu semakin mempunyai nilai tambah..


So, itu beberapa tips dari aku. Kalau kurang jelas bisa tanya-tanya ke aku. Jangan malu, jangan sungkan, please. Karena aku lebih suka kalau ditanya-tanyain. Hehehe.

Jumat, 30 Desember 2016

Cerpen ARKI 2015 [Tapis Mengajarkan Kehidupan]



Heloh everybadeh!
Waduh, tahun 2016 dalam beberapa jam lagi akan berakhir nih. Dan blogku baru kuisi empat tulisan saja di tahun ini. Wah, berarti aku sangat nonproduktif ya. Untuk cerpen saja kurang dari lima yang kuhasilkan di tahun ini.

Apa saja yang sudah kulakukan? Well, kuakui bahwa aku banyak membuang-buang waktu di tahun ini. Aku terlalu fokus dengan dunia nyata hingga dunia imajinasi tidak lagi kuselami. Untuk kamu yang sama kayak aku, cepat-cepat balik ke dunia imajinasi deh. Nyesel nanti kamu terlalu fanatik dengan dunia nyata. Hehehe.

Baiklah, dalam tulisan ini aku bakal nunjukin cerpenku yang lolos ARKI 2015. Untuk yang cerpen yang lolos ARKI 2016, nanti dulu yah. Cerpen itu masih secret. Hehehe.


Jangan lupa komentar ya! Atau kalau mau tanya-tanya juga boleh. Jangan malu, jangan sungkan, please. Karena aku lebih suka kalau ditanya-tanyain. Hehehe.

Rabu, 06 April 2016

[CERPEN] Pasar Malam

Keramaian penuh sesak, permainan hiburan yang terus melaju ketika yang ingin dihibur menaiki, lesehan orang-orang berjualan, semua itu tampak hina di mata Widoyo. Teriakan-teriakan rayuan gombal para penjual membuat matanya mendelik, sedangkan suara motor gestrek memekakkan telinga hingga terasa ingin menangkupkan sepasang tangan di kedua telinganya itu. Ia kesumat! ia benci pasar malam.

Senin, 20 April 2015

Buang Kata “TERLALU” dan “TERLAMBAT”

Ketika kita berhenti membatasi potensi sendiri, setiap hari akan membawa keberuntungan. Bagaikan sepucuk wesel yang tiba-tiba terkirim ke pos surat.
***
Waktu saya masih seorang gadis kecil, saya begitu bangga saat menerima satu lambang kesuksesan sebagai murid balet: sebuah tutu atau rok jaring warna merah muda. Saya memakainya dengan bangga. Sampai, suatu Sabtu pagi, saya melihat bayangan saya di depan kaca yang mengelilingi ruangan tari di sekolah dansa Myldred Lyons. “Lupakanlah tutu itu”, saya berkata pada diri sendiri. “Engkau terlalu gemuk.”

Sekarang baru saya sadari bahwa saya menggunakan satu kata yang salah. Tidak ada yang salah dengan tutu itu. Yang patut dilupakan adalah kata “terlalu” yang biasanya digunakan untuk siapa saja. contohnya pernyataan seperti, “saya terlalu gemuk.” “saya terlalu bodoh,” “saya punya terlalu banyak barang,” “saya punya terlalu sedikit uang kontan,” atau “mungkin saya bisa melakukan........ (isilah tempat yang kodong) tetapi sekarang saya sudah terlambat.”

Jika anda sering mengucapkan “terlalu”, lepaskanlah! Jika anda punya banyak kata terlalu, buang semua! Satu-satunya maksud dari kata ‘terlalu’ adalah untuk menambah rasa sakit pada si pemakai kata itu sendiri. Jika pernyataan yang getir tersebut tidak menggunakan kata terlalu, itu sudah dapat menjadi titik awal dari satu perubahan. Dan bukannya menjadikan alasan untuk merasa perlu dikasihani.

Misalnya, “saya gemuk.” Baiklah. Itu pernyataan yang benar. Apakah kita ingin menerima tubuh sebagaimana adanya, memusatkan perhatian pada diri sendiri, dan menyenangi tubuh yang besar itu? Atau kita ingin membuat perubahan dari dalam maupun dari luar yang dapat membuat kehidupan dengan tubuh yang lebih langsing menjadi sesuatu yang realistis dan menyenangkan? Begitu kita menghapus kata “terlalu,” pilihannya ada pada diri kita.

Atau pertimbangkan perkataan, “sudah terlambat.” Sebenarnya tidak terlalu terlambat untuk belajar tarian salsa, menabung untuk liburan ke Bali, atau memasang iklan di kolom jodoh! Jika kita tidak menggunakan kata “terlambat,” kita dapat melihat kenyataan bahwa beberapa waktu telah lewat sejak pertama kali kita punya ide/keinginan tersebut. Namun jika kita dari sekarang memulai prosesnya, kita tidak akan kehilangan waktu lagi.

Perhatikanlah untuk tidak menggunakan kata “terlambat” lagi. Perkataan ini menggambarkan pola penyangkalan diri yang tidak akan menjadikan diri kita lebih baik. Juga berhati-hatilah untuk tidak menggunakan kata “terlalu” terhadap orang di sekitar kita. Khusunya, mereka yang selalu meminta petunjuk dan keyakinan dari kita, seperti pegawai, mahasiswa, atau anak-anak.

Jika kita berhenti membatasi potensi yang kita miliki, hari-hari akan membawa makna yang berarti. Kata “terlalu” dan “terlambat” adalah sebuah pembatas hidup yang utama. Carilah cara yang dapat membaut situasi dan keadaan berkembang tanpa dua kata tersebut. Dengan demikian, kita dapat bebas menemukan jalan alternatif, kejutan yang menyenangkan, atau bakat yang tersembunyi.

Diambil dari buku Bahagia dalam Kesibukan-Victoria Moran. Penerbit Erlangga

Selasa, 14 April 2015

Kapan Saya Tahu Segalanya Sudah Cukup?

Bagaimana Anda tahu Anda sudah merasa cukup? Ketika Anda benar-benar siap untuk mematahkan segala keyakinan lama Anda.

Sebuah cerita yang saya dengar 10 tahun lalu di New York, akan lebih memperjelas maksud perkataan saya. Saat itu, saya sedang menanti kereta bawah tanah. Lalu saya melihat seorang pria berusia 45 tahun terus berteriak ‘bertobatlah, bertobatlah’ sambil menceritakan sebuah kisah pada orang-orang yang sedang menanti kereta bawah tanah. Saya dan orang-orang di sekitar saya menertawai orang tersebut, sebelum akhinya saya sadar bahwa saya sebenarnya sedang memerhatikannya.

Yang menarik perhatian saya saat itu adalah cerita berikut ini. Seorang pria, bingung akan arah tujuan hidupnya, bertanya pada seorang ahli agama timur kuno, “Kapan saya akan mengerti arti hikmat yang sesungguhnya? Kapan saya akan mengerti mengapa kita berada di bumi?”

Senin, 13 April 2015

Menciptakan Hidup Bahagia

"Anak kecil lebih mudah belajar menulis bila menggunakan pensil besar. Demikian pula dengan kita. Lebih mudah menciptakan hidup bahagia jika kita memiliki impian yang besar."
***

Dalam dongeng, tokoh yang beruntung dan disenangi selalu ditampilkan sebagai lawan dari tokoh yang terkutuk dan dibenci. Dewasa ini, kita masih cenderung percaya akan adanya orang yang beruntung dan terkutuk. Kita sering percaya pada kutukan, contohnya kita sering mengatakan, “Tidak heran kalau akhirnya begitu....”, atau, “saya sudah tahu itu tidak mungkin terjadi.” Kita juga percaya bahwa hidup bahagia itu seperti takdir, misalnya saat kita lihat orang lain sukses dalam karir, pindah ke apartemen baru dengan pemandangan indah, dan kemudian menikah dengan pria yang gagah bak Sir Lancelot, sang pahlawan meja bundar dalam legenda Raja Arthur. Keberuntungan orang lain kadang membuat kita percaya bahwa beberapa orang memang memiliki dewa pelindung yang melindungi mereka sepanjang waktu. Sedangkan dewa pelindung kita sendiri telah mengambil pensiun dini.