Rabu, 06 Mei 2015

Di Mana Ada Saya, Di Situ Pasti Kalah

Hari ini cukup menjadi hari yang melelahkan untuk saya. Bukan lelah dalam arti lelah fisik, tapi entah kenapa jiwa saya merasa lelah hari ini.

Hari ini berlangsung acara sekolah. Yaitu peringatan tiga hari besar nasional, yaitu hari kartini, hari pendidikan nasional, dan hari kebangkitan nasional. Dan dalam acara ini diadakan beberapa lomba untuk memeriahkan acara. Salah satunya mading (majalah dinding).

Sebagai anak mading, saya pun mengikuti lomba tersebut sebagai perwakilan dari kelas saya. Satu tim berjumlah tiga orang. Pada jam sembilan, saya dan kedua teman saya mulai mengkuti lomba mading yang berlangsung. Panitia menyediakan waktu dua jam, dan dalam waktu dua jam, semua harus sudah selesai dan harus dipresentasikan.

Saat lomba, tangan saya terasa dingin, dan jantung saya terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Mungkin untuk peserta-peserta lainnya merasa biasa saja, tapi tidak dengan saya. Saya memang orang yang seperti itu, gampang panik dengan sesuatu yang terasa khusus. Apalagi saya tipe orang yang sangat demam dengan bertemu khalayak ramai.

Senin, 04 Mei 2015

Takut Bertemu Seseorang. Kenapa Sih?

Entah kenapa saya takut bertemu dengan seseorang. Sebut saja dia I. Saya sendiri nggak tahu penyebabnya karena apa. Entah karena dia menakutkan *bukan sih*, entah karena mukanya *emang ngapa?*, atau entah karena ada sesuatu yang tersembunyi di balik dirinya. Untuk yang pilihan terakhir, saya rasa ada benarnya. Karena setiap bertemu dia, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Apa itu? Saya sendiri nggak tau. Yang jelas jantung ini langsung berdegup lebih kecang. Saya sih mengklaim bahwa ini bukan deg-degan jatuh cinta.

Sabtu, 02 Mei 2015

[Puisi] Pelangi, Kembalilah

Judul: Pelangi, Kembalilah

Pelangi itu berwarna satu
Tanpa ada merah jambu dengan keceriaan
Tanpa ada biru dengan kesejukan
Tanpa ada merah dengan keberanian

Pelangi itu berbentuk datar
Tetapi menyulam bukit kerinduan
Tanpa terhenti pada ujungnya
Yang telah tertumpuk menjadi emas-emas

Pelangilah sebagai korban
Penghianatan penghilang warna
Angin memasang mata
Saksi perjalanan tiada tara
Hingga ia memuncak ke langit-langit

Hewan berpundi-pundi pun tak rela
Jika pelangi kehilangan warnanya
Awan telah menangis
Meneriakkan kristal-kristal agar warna pelangi kembali

Sedangkan waktu dan semesta
Akan mengembalikan warna pelangi
Yang terbias dalam hentakkan kaca

Senin, 27 April 2015

Hello No.PG 14


Poster GSC

Huh, nggak kerasa GSC (Gebyar Smansawara Competition) yang diadakan sekolahku, SMAN 1 Way Jepara udah lewat beberapa bulan yang lalu. Lomba yang diadakan sangat banyak, termasuk pertandingan basket. dan pastinya ada basket putri.

Aku masih inget, waktu hari H nya, aku lomba. dan aku juga baru kelas 10, jadinya itu pertama kali lomba basket. Sumpah! rasanya tuh jantung nggak bisa diajak kompromi. Dia bedetak lebih kencang dari biasanya. Bikin tangan dingin, bahkan seluruh tubuh semua juga ikut dingin.



Sebelum lomba, timku pemanasan dulu, trus latihan biasa seperti lay-up, oper bola.. ya kayak latihan biasa.


Center lawan memenangkan bola sewaktu Jump Ball


Trus, waktu pertandingan dimulai, tiba-tiba semuanya hilang. Maksudnya rasa gugupnya..
Mana disekeliling lapangan banyak banget yang nonton. Hampir sekeliling lapangan dipenuhi sama anak SMAN1 Way Jepara. Tapi, kalau pertandingan sudah jalan, ya lupa deh sama sekeliling. Lari, ya, lari. Deffen, ya, deffen. Mau jatuh ngguling dilapangan pun rasanya biasa aja, karena ada sesuatu yang harus dijaga dan diserang. yaitu RING!

Jujur, timku memang sedikit susah untuk latihan dihari biasa, jadinya jangan heran kalau kalah. karena kalaupun ada yang latihan, paling ya cuma satu atau dua anak.

Ya, kita kalah waktu itu. Tapi gapapa. tetap dijadikan pelajaran dan pengalaman, juga untuk nambah mental tuh. Biar kalo tanding lagi gak nervous. Satu lagi, juga buat nambah fisik, karena aku waktu itu main 4 quarter nggak ganti-ganti. hahaha:)

Aku sewaktu mendapatkan free throw (lemparan bebas)
Aku sewaktu shot free throw

Senin, 20 April 2015

Buang Kata “TERLALU” dan “TERLAMBAT”

Ketika kita berhenti membatasi potensi sendiri, setiap hari akan membawa keberuntungan. Bagaikan sepucuk wesel yang tiba-tiba terkirim ke pos surat.
***
Waktu saya masih seorang gadis kecil, saya begitu bangga saat menerima satu lambang kesuksesan sebagai murid balet: sebuah tutu atau rok jaring warna merah muda. Saya memakainya dengan bangga. Sampai, suatu Sabtu pagi, saya melihat bayangan saya di depan kaca yang mengelilingi ruangan tari di sekolah dansa Myldred Lyons. “Lupakanlah tutu itu”, saya berkata pada diri sendiri. “Engkau terlalu gemuk.”

Sekarang baru saya sadari bahwa saya menggunakan satu kata yang salah. Tidak ada yang salah dengan tutu itu. Yang patut dilupakan adalah kata “terlalu” yang biasanya digunakan untuk siapa saja. contohnya pernyataan seperti, “saya terlalu gemuk.” “saya terlalu bodoh,” “saya punya terlalu banyak barang,” “saya punya terlalu sedikit uang kontan,” atau “mungkin saya bisa melakukan........ (isilah tempat yang kodong) tetapi sekarang saya sudah terlambat.”

Jika anda sering mengucapkan “terlalu”, lepaskanlah! Jika anda punya banyak kata terlalu, buang semua! Satu-satunya maksud dari kata ‘terlalu’ adalah untuk menambah rasa sakit pada si pemakai kata itu sendiri. Jika pernyataan yang getir tersebut tidak menggunakan kata terlalu, itu sudah dapat menjadi titik awal dari satu perubahan. Dan bukannya menjadikan alasan untuk merasa perlu dikasihani.

Misalnya, “saya gemuk.” Baiklah. Itu pernyataan yang benar. Apakah kita ingin menerima tubuh sebagaimana adanya, memusatkan perhatian pada diri sendiri, dan menyenangi tubuh yang besar itu? Atau kita ingin membuat perubahan dari dalam maupun dari luar yang dapat membuat kehidupan dengan tubuh yang lebih langsing menjadi sesuatu yang realistis dan menyenangkan? Begitu kita menghapus kata “terlalu,” pilihannya ada pada diri kita.

Atau pertimbangkan perkataan, “sudah terlambat.” Sebenarnya tidak terlalu terlambat untuk belajar tarian salsa, menabung untuk liburan ke Bali, atau memasang iklan di kolom jodoh! Jika kita tidak menggunakan kata “terlambat,” kita dapat melihat kenyataan bahwa beberapa waktu telah lewat sejak pertama kali kita punya ide/keinginan tersebut. Namun jika kita dari sekarang memulai prosesnya, kita tidak akan kehilangan waktu lagi.

Perhatikanlah untuk tidak menggunakan kata “terlambat” lagi. Perkataan ini menggambarkan pola penyangkalan diri yang tidak akan menjadikan diri kita lebih baik. Juga berhati-hatilah untuk tidak menggunakan kata “terlalu” terhadap orang di sekitar kita. Khusunya, mereka yang selalu meminta petunjuk dan keyakinan dari kita, seperti pegawai, mahasiswa, atau anak-anak.

Jika kita berhenti membatasi potensi yang kita miliki, hari-hari akan membawa makna yang berarti. Kata “terlalu” dan “terlambat” adalah sebuah pembatas hidup yang utama. Carilah cara yang dapat membaut situasi dan keadaan berkembang tanpa dua kata tersebut. Dengan demikian, kita dapat bebas menemukan jalan alternatif, kejutan yang menyenangkan, atau bakat yang tersembunyi.

Diambil dari buku Bahagia dalam Kesibukan-Victoria Moran. Penerbit Erlangga

Sabtu, 18 April 2015

[CERPEN] 5 Detik Bersamamu

Karya: Hafifah Azahra
Kategori: Remaja



“Hey, Boy!” Aku mengagetkan Zen yang terlihat duduk sambil menatap sesuatu, tetapi tatapannya itu terlihat tanpa tujuan. “Ngelamun aja dari tadi. Mikirin apa sih?”
“Eh, Lovia.” Zen tersadar dari lamunannya. “Nggak, kok. Nggak mikirin apa-apa. Cuma, lagi ada sesuatu yang melintas di pikiran gue.”
Aku melengos. “Yaelah. Itu mah sama aja kalo lo lagi mikir. Gimana, sih?
Zen hanya terkekeh. Aku pun ikut tersenyum.
“Oh, iya. Kan, besok ada acara tuker kado acak, nih, di kelas kita. Kira-kira lo mau ngado apa?” tanyaku pada Zen. Di kelas kami setiap pergantian semester pasti akan mengadakan tukar kado. Namun, kado itu ditukar secara acak. Jadi, kado yang sudah dibungkus tanpa nama atau clue apapun di dalamnya, akan dikumpul ke depan. Anak yang dipanggil bergilir bebas memilih kado yang ada di depan.
“Rahasia, dong. Sesuai perjanjian, nggak boleh ngasih tau clue apa-apa.”

Selasa, 14 April 2015

Kapan Saya Tahu Segalanya Sudah Cukup?

Bagaimana Anda tahu Anda sudah merasa cukup? Ketika Anda benar-benar siap untuk mematahkan segala keyakinan lama Anda.

Sebuah cerita yang saya dengar 10 tahun lalu di New York, akan lebih memperjelas maksud perkataan saya. Saat itu, saya sedang menanti kereta bawah tanah. Lalu saya melihat seorang pria berusia 45 tahun terus berteriak ‘bertobatlah, bertobatlah’ sambil menceritakan sebuah kisah pada orang-orang yang sedang menanti kereta bawah tanah. Saya dan orang-orang di sekitar saya menertawai orang tersebut, sebelum akhinya saya sadar bahwa saya sebenarnya sedang memerhatikannya.

Yang menarik perhatian saya saat itu adalah cerita berikut ini. Seorang pria, bingung akan arah tujuan hidupnya, bertanya pada seorang ahli agama timur kuno, “Kapan saya akan mengerti arti hikmat yang sesungguhnya? Kapan saya akan mengerti mengapa kita berada di bumi?”